Minggu, 17 Januari 2010

Aspirin Berpotensi Obati Osteoporosis

SIAPA tidak mengenal aspirin atau asam asetilsalisilat (asetosal). Obat yang satu ini sudah dikenal sejak ratusan tahun lalu dan sering digunakan sebagai analgesik (obat mengatasi rasa sakit atau nyeri minor), antipiretik (obat demam), dan anti-inflamasi atau peradangan.

Selain berkhasiat mengobati beragam gejala dan penyakit, manfaat aspirin juga terus berkembang seiring dengan gencarnya penelitian para ahli. Riset terbaru terhadap binatang, misalnya, mengungkap potensi aspirin untuk mengobati penyakit keropos tulang atau osteoporosis.

Dalam penelitian yang dipublikasikan jurnal PLoS One, peneliti dari Amerika Serikat mengindikasikan bahwa dosis rendah aspirin dapat menurunkan aktivitas sel-sel yang menggerogoti tulang. Di lain pihak, aspirin juga mampu meningkatkan aktivitas sel-sel yang membangun kepadatan tulang.

Oleh para ahli, meningkatnya aktivitas sel-sel yang merusak kepadatan tulang secara tipikal memang disebut sebagai penyebab osteoporosis. Namun, menurut Dr Songtao Shi dari University of Southern California School of Dentistry, Los Angeles, bukti terbaru telah mengindikasikan bahwa penurunan jumlah sel-sel yang membentuk tulang juga berperan bagi terjadinya penyakit keropos tulang.

Dalam penelitiannya, tim yang dipimpin Dr Songtao Shi berhasil membuktikan bahwa aspirin dapat menurunkan tingkat kerusakan sel-sel yang membentuk tulang pada tikus. Mereka juga dapat menunjukkan lebih jauh bahwa dengan menambahkan aspirin dalam dosis rendah, sel-sel pembentuk tulang menjadi lebih aktif, sedangkan sel-sel yang merusak tulang justru menjadi kurang aktif. Dengan penambahan aspirin, tulang-tulang tikus ini menjadi lebih kuat dan lebih padat.

“Aspirin mungkin dapat menawarkan sebuah pendekatan baru dalam mengobati osteoporosis yang banyak dialami para wanita setelah memasuki masa menopause," kata peneliti seperti dikutip Reutershealth, Kamis (31/7) .

Walaupun beberapa riset pada manusia telah mengindikasikan bahwa penggunaan aspirin secara teratur memberikan faedah yang cukup pada pemadatan tulang para wanita menopause, Shi menekankan pentingnya penelitian lanjutan untuk mengungkap lebih detail dan mengklarifikasi mekanisme aspirin dalam mencegah dan mengobati osteoporosis.

Sumber :
http://www.dechacare.com/Aspirin-Berpotensi-Obati-Osteoporosis-I343.html
31 Juli 2008

Hati-hati Terhadap Osteoporosis

Penyakit Osteoporosis adalah penyakit yang gejalanya sering kali tidak terlihat. Penyakit itu biasanya baru terdeteksi setelah terjadi patah-patah kecil pada bagian dalam tulang atau rasa nyeri. Patah tulang karena Osteoporosis biasanya terjadi pada pergelangan tangan, tulang punggung, atau pangkal paha.

Osteoporosis adalah penyakit yang ditandai oleh berkurangnya massa tulang dan adanya kelainan mikroarsitektur jaringan tulang yang berakibat meningkatnya kerapuhan tulang serta resiko terjadinya patah tulang. Struktur tulang masih normal, tetapi massa tulang yang mengisi jaringan tulang menjadi rapuh dan mudah patah (fraktur). Penyakit ini juga disebut `pencuri tulang` yang bekerja secara diam-diam tanpa gejala sampai terjadinya komplikasi patah tulang yang disebabkan oleh hal-hal sepele.

Seringkali seseorang tidak mengetahui ia terserang osteoporosis, karena serangannya tidak diawali dengan tanda-tanda. Biasanya diketahui secara kebetulan pada saat pengambilan foto rontgen karena penyakit lain, kecelakaan ringan atau pada saat seseorang mengalami patah tulang. Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit ini, misalnya kekuarangan Kalsium, gerak, vitamin D, gangguan hormon tubuh, perokok berat, dan peminum alkohol berlebihan.

Osteoporosis layak untuk menjadi perhatian semua orang, terutama bagi kaum wanita, karena osteoporosis banyak menyerang wanita yang telah memasuki periode menopause. Hal ini disebabkan produksi hormon estrogennya berkurang dan mengakibatkan terjadinya penurunan kadar kalsium darah yang pada akhirnya mengakibatkan osteoporosis.


Wanita Lebih Beresiko Alami Keropos Tulang

Kaum wanita beresiko lebih besar mengalami rapuh tulang atau osteoporosis dari pada laki-laki, terutama wanita pasca menopouse. Pada usia 50 tahun, resiko patah tulang pada wanita tiga kali lebih besar dari pada pria. Estrogen berperan dalam proses mineralisasi tulang yang dipicu oleh kalsitriol dan menghambat resorbsi tulang serta pembentukan osteoklas melalui penghambatan produksi sitokin-sitokin dalam proses resorbsi tulang.

Terapi sulih hormon, merupakan pengobatan utama dalam penatalaksanaan osteoporosis paska menopause. Kombinasi esterogen dan progesteron digarapkan mempunyai efek terhadap proliverasi endometrium sehingga mencegah hiperplasi dan kanker endometrium. Selain per oral, esterogen dapat pula diberikan dalam bentuk koyok dan susuk. Selama pengobatan osteoporosis, baik hormonal maupun non-hormonal diperlukan pengawasan ketat seperti mamografi, sitologi, dan penilaian densitometri.

Insiden osteoporosis pada laki-laki lebih rendah dari pada wanita, karena laki-laki dapat mencapai massa tulang puncak yang lebih tinggi serta tingkat kehilangan massa tulang kortikol juga lebih rendah. Patogenesis osteopeni pada laki-laki, mungkin disebabkan berkurangnya pembentukan massa tulang dan bukan akibat meningkatnya resorbsi massa tulang. Sampai sekarang, belum ada pengobatan baku osteoporosis pada laki-laki. Testosteron dilaporkan meningkatkan densitas massa tulang vertebra sebesar lima persen, namun kadar estradiol serum ternyata juga meningkat 45 persen dan berkolerasi dengan peningkatan massa tulang vertebra.


Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Terjadinya Osteoporosis

1. Genetis : Diperkirakan hampir sekitar 80 % kepadatan tulang itu diwariskan secara genetik sehingga dengan kata lain osteoporosis itu dapat diturunkan.
2. Wanita diatas 40 tahun lebih banyak terkena osteoporosis dibandingkan dengan pria. Wanita yang memasuki masa menopause mengalami pengurangan hormon esterogen.
3. Kurang olahraga dapat menyebabkan kepadatan tulang berkurang. Olahraga atau aktivitas dapat meningkatkan kepadatan tulang.
4. Faktor lain seperti merokok, banyak mengkonsumsi minuman yang mengandung alkohol, kafein tinggi seperti teh, kopi serta cola.
5. Kekurangan gizi : Akibat penggunaan obat-obatan yang mengandung steroid atau penyakit kronis lainnya seperti penyakit hati, gagal ginjal kronis
Usia lanjut


Gejala osteoporosis yang sering terlihat dan mudah untuk dikenali adalah :

1. Terjadinya patah tulang secara tiba-tiba karena trauma yang ringan atau tanpa trauma.
2. Timbulnya rasa nyeri yang hebat sehingga penderita tidak dapat melakukan pergerakan.
3. Berkurangnya tinggi badan dan bongkok


Cara-cara pencegahan osteoporosis :

1. Melakukan aktivitas fisik yang teratur seperti olah raga
2. Diet dengan menambah Calsium dan vitamin D
3. Memperbaiki gaya hidup dan menghilangkan kebiasaan seperti merokok, minum alkohol
4. Penggunaan HRT (Hormon Replacement Therapy) atau terapi esterogen khususnya bagi wanita baru memasuki masa menopause.

Pengobatan osteoporosi bisa dilakukan dengan pemberian obat-obatan seperti : Kalsitonin dan bisphosphonates yang tentu saja harus sesuai dan tergantung dari anjuran dokter.

Kalsitonin : Penemuan hormon yang dapat menurunkan konsentrasi kalsium darah dimulai pada tahun 1960 oleh seorang profesor asal Kanada yang bernama Harold Copp. Ia menyebut zat itu sebagai 'calcitonin' karena dapat mengontrol konsentrasi kalsium (calcium tonus) didalam plasma. Zat ini banyak didapatkan terutama dari ikan salmon. Pada tahun 1969, Dr. Stephan Guttmann seorang peneliti dari Sandoz menyempurnakan penemuan calcitonin dengan keberhasilan memproduksi salmon calcitonin secara sintetis. Zat kalsitonin dapat mengurangi aktivitas dari sel osteoclast (sel yang bertugas menyerap tulang), memperlambat proses resorpsi dan meningkatkan peresapan kalsium oleh tulang. Dengan pemakaian kalsitonin, kepadatan dan kekuatan tulang dapat ditingkatkan sehingga tulang menjadi tidak lagi rapuh dan mengurangi rasa sakit.

Sumber :
Indah
http://www.indosiar.com/ragam/21383/hati-hati-terhadap-osteoporosis

Penyebab Osteoporosis dan Faktor Risiko Osteoporosis

Sebenarnya, apa yang menyebabkan terjadinya osteoporosis? Berikut ini beberapa penyebab osteoporosis:

Osteoporosis postmenopausal terjadi karena kekurangan estrogen (hormon utama pada wanita), yang membantu mengatur pengangkutan kalsium ke dalam tulang pada wanita.

Biasanya gejala timbul pada wanita yang berusia di antara 51-75 tahun, tetapi bisa mulai muncul lebih cepat ataupun lebih lambat.

Tidak semua wanita memiliki risiko yang sama untuk menderita osteoporosis postmenopausal, wanita kulit putih dan daerah timur lebih mudah menderita penyakit ini daripada wanita kulit hitam.

Osteoporosis senilis kemungkinan merupakan akibat dari kekurangan kalsium yang berhubungan dengan usia dan ketidakseimbangan diantara kecepatan hancurnya tulang dan pembentukan tulang yang baru.

Senilis berarti bahwa keadaan ini hanya terjadi pada usia lanjut. Penyakit ini biasanya terjadi pada usia diatas 70 tahun dan 2 kali lebih sering menyerang wanita. Wanita seringkali menderita osteoporosis senilis dan postmenopausal.

Osteoporosis sekunder dialami kurang dari 5% penderita osteoporosis, yang disebabkan oleh keadaan medis lainnya atau oleh obat-obatan.

Penyakit osteoporosis bisa disebabkan oleh gagal ginjal kronis dan kelainan hormonal (terutama tiroid, paratiroid dan adrenal) dan obat-obatan (misalnya kortikosteroid, barbiturat, anti-kejang dan hormon tiroid yang berlebihan).

Pemakaian alkohol yang berlebihan dan merokok bisa memperburuk keadaan osteoporosis.

Osteoporosis juvenil idiopatik merupakan jenis osteoporosis yang penyebabnya tidak diketahui.

Hal ini terjadi pada anak-anak dan dewasa muda yang memiliki kadar dan fungsi hormon yang normal, kadar vitamin yang normal dan tidak memiliki penyebab yang jelas dari rapuhnya tulang.


Faktor Risiko Osteoporosis

Wanita

Osteoporosis lebih banyak terjadi pada wanita. Hal ini disebabkan pengaruh hormon estrogen yang mulai menurun kadarnya dalam tubuh sejak usia 35 tahun. Selain itu, wanita pun mengalami menopause yang dapat terjadi pada usia 45 tahun.


Usia

Seiring dengan pertambahan usia, fungsi organ tubuh justru menurun. Pada usia 75-85 tahun, wanita memiliki risiko 2 kali lipat dibandingkan pria dalam mengalami kehilangan tulang trabekular karena proses penuaan, penyerapan kalsium menurun dan fungsi hormon paratiroid meningkat.


Ras/Suku

Ras juga membuat perbedaan dimana ras kulit putih atau keturunan asia memiliki risiko terbesar. Hal ini disebabkan secara umum konsumsi kalsium wanita asia rendah. Salah satu alasannya adalah sekitar 90% intoleransi laktosa dan menghindari produk dari hewan. Pria dan wanita kulit hitam dan hispanik memiliki risiko yang signifikan meskipun rendah.


Keturunan Penderita osteoporosis

Jika ada anggota keluarga yang menderita osteoporosis, maka berhati-hatilah. Osteoporosis menyerang penderita dengan karakteristik tulang tertentu. Seperti kesamaan perawakan dan bentuk tulang tubuh. Itu artinya dalam garis keluarga pasti punya struktur genetik tulang yang sama.


Gaya Hidup Kurang Baik

Konsumsi daging merah dan minuman bersoda, karena keduanya mengandung fosfor yang merangsang pembentukan horman parathyroid, penyebab pelepasan kalsium dari dalam darah.


Minuman berkafein dan beralkohol.

Minuman berkafein seperti kopi dan alkohol juga dapat menimbulkan tulang keropos, rapuh dan rusak. Hal ini dipertegas oleh Dr.Robert Heany dan Dr. Karen Rafferty dari creighton University Osteoporosis Research Centre di Nebraska yang menemukan hubungan antara minuman berkafein dengan keroposnya tulang.

Hasilnya adalah bahwa air seni peminum kafein lebih banyak mengandung kalsium, dan kalsium itu berasal dari proses pembentukan tulang. Selain itu kafein dan alkohol bersifat toksin yang menghambat proses pembentukan massa tulang (osteoblas).


Malas Olahraga

Wanita yang malas bergerak atau olahraga akan terhambat proses osteoblasnya (proses pembentukan massa tulang). Selain itu kepadatan massa tulang akan berkurang. Semakin banyak gerak dan olahraga maka otot akan memacu tulang untuk membentuk massa.


Merokok

Ternyata rokok dapat meningkatkan risiko penyakit osteoporosis. Perokok sangat rentan terkena osteoporosis, karena zat nikotin di dalamnya mempercepat penyerapan tulang. Selain penyerapan tulang, nikotin juga membuat kadar dan aktivitas hormon estrogen dalam tubuh berkurang sehingga susunan-susunan sel tulang tidak kuat dalam menghadapi proses pelapukan.

Disamping itu, rokok juga membuat penghisapnya bisa mengalami hipertensi, penyakit jantung, dan tersumbatnya aliran darah ke seluruh tubuh. Kalau darah sudah tersumbat, maka proses pembentukan tulang sulit terjadi. Jadi, nikotin jelas menyebabkan osteoporosis baik secara langsung tidak langsung.

Saat masih berusia muda, efek nikotin pada tulang memang tidak akan terasa karena proses pembentuk tulang masih terus terjadi. Namun, saat melewati umur 35, efek rokok pada tulang akan mulai terasa, karena proses pembentukan pada umur tersebut sudah berhenti.


Kurang Kalsium

Jika kalsium tubuh kurang maka tubuh akan mengeluarkan hormon yang akan mengambil kalsium dari bagian tubuh lain, termasuk yang ada di tulang.


Mengkonsumsi Obat

Obat kortikosteroid yang sering digunakan sebagai anti peradangan pada penyakit asma dan alergi ternyata menyebabkan risiko penyakit osteoporosis. Jika sering dikonsumsi dalam jumlah tinggi akan mengurangi massa tulang. Sebab, kortikosteroid menghambat proses osteoblas. Selain itu, obat heparin dan antikejang juga menyebabkan penyakit osteoporosis. Konsultasikan ke dokter sebelum mengkonsumsi obat jenis ini agar dosisnya tepat dan tidak merugikan tulang.


Kurus dan Mungil

Perawakan kurus dan mungil memiliki bobot tubuh cenderung ringan misal kurang dari 57 kg, padahal tulang akan giat membentuk sel asal ditekan oleh bobot yang berat. Karena posisi tulang menyangga bobot maka tulang akan terangsang untuk membentuk massa pada area tersebut, terutama pada derah pinggul dan panggul. Jika bobot tubuh ringan maka massa tulang cenderung kurang terbentuk sempurna.


Sumber :
http://www.medicastore.com/osteoporosis/penyebab_osteoporosis.html

Mencegah Osteoporosis

Setelah usia 30 tahunan mulai terjadi penurunan kepadatan tulang yang relatif sedikit namun terus berjalan sehingga pada usia sekitar 50 tahunan massa tulang berkurang sekitar 0,5%-1% per tahun.

Seorang penderita osteoporosis kadang-kadang menyadari penyakitnya setelah mengalami patah tulang tiba-tiba karena tekanan yang relatif ringan. Keadaan ini terjadi karena osteoporosis yang "alami" terjadinya perlahan-lahan, lambat namun pasti dan sering di dalam kedokteran disebut sebagai pencuri tulang yang tersembunyi, sedikit demi sedikit massa tulang diserap sehingga mengalami penurunan kepadatan massa tulang, terjadi kekeroposan tulang yang menjadi rapuh dan sangat rentan terhadap kecelakaan ringan ataupun yang tanpa suatu beban mengalami patah tulang spontan.

Kecepatan terjadinya osteoporosis, atau penurunan massa tulang, berbeda pada tiap individu, orang per orang, yang salah satunya bergantung pada kepadatan massa tulang yang bersangkutan. Massa tulang mulai meningkat sejak masa kanak-kanak terus bertambah kepadatannya sampai mencapai puncak kepadatan massa tulang pada usia sekitar 30 tahunan. Kepadatan massa tulang ini sangat berbeda dari tiap orang karena bergantung dari pola makan, khususnya makanan yang mengandung unsur kalsium di samping sinar matahari, melakukan kegiatan yang bersifat menggerakkan badan, di samping adanya faktor keturunan.

Setelah usia 30 tahunan mulai terjadi penurunan kepadatan tulang yang relatif sedikit namun terus berjalan sehingga pada usia sekitar 50 tahunan massa tulang berkurang sekitar 0,5-1% per tahun. Pada wanita yang memasuki masa menopause kecepatan ini bertambah menjadi sekitar 3% pertahun. Pada wanita yang telah mengalami masa menopause 5-10 tahun, penurunan lebih cepat lagi namun kemudian setelah itu penurunan berkurang, penurunan massa tulang sekitar 15-20% pascamenopause atau jumlah penurunan pada sepanjang hayatnya sekitar 40-50%.

Primer dan sekunder

Osteoporosis dibagi atas dua, primer dan sekunder. Golongan primer dibagi atas tiga jenis, yaitu osteoporosis pascamenopause yang lebih banyak ditandai dengan patah tulang belakang dan tulang lengan, osteoporosis yang mengenai daerah tulang rangka seperti pada tulang paha sebagai akibat dari penuaan yang menurunkan massa tulang, serta osteoporosis yang tidak diketahui penyebabnya dan terjadi pada usia pertengahan atau masa muda usia. Osteoporosis golongan sekunder disebabkan oleh penyakit-penyakit yang diderita oleh pasien yang bersangkutan seperti penyakit gondok, diabetes serta penggunaan obat-obatan tertentu. Sedangkan pada wanita menopause, penyebab utama ditudingkan pada kekurangan atau penurunan hormon estrogen.

Faktor risiko terjadinya osteoporosis antara lain faktor genetik, nutirisi (rendahnya asupan kalsium, magnesium, dan fosfor, sering minum alkohol, kopi, mengonsumsi garam berlebih serta protein yang berlebih), gaya hidup (merokok, rendahnya aktivitas fisik), pengaruh pola hormon endokrin tertentu khususnya pada mereka yang memiliki berat badan berlebih, serta penggunaan obat-obatan tertentu(obat-obat antikejang, pengencer darah, kemoterapi, dll).

Gejala osteoporosis

Umumnya gejala atau proses osteoporosis berjalan perlahan-lahan, sama halnya seperti kejadian tekanan darah tinggi yang baru disadari ketika telah terjadi stroke atau kelumpuhan.

Keluhan-keluhan yang dirasakan awalnya nyeri-nyeri otot, gangguan pergerakan yang berjalan menahun dan biasanya dianggap sebagai penyakit rematik.

Bila telah terjadi patah tulang, apa lagi dalam usia lanjut di atas 50 atau 60 tahunan, pengobatannya teramat sedikit kemungkinan fungsi alat gerak dapat kembali seperti semula. Proses patah tulangnya sendiri mungkin dapat diperbaiki, namun fungsinya khususnya rasa nyeri dan gangguan gerak akan selalu mengganggu kehidupan yang bersangkutan.

Upaya pencegahan

Pencegahan yang utama dari tejadinya osteoporosis adalah mengoptimalkan upaya mencapai kepadatan massa tulang yang baik melalui nutrisi, olah raga dan menghilangkan atau menurunkan faktor-faktor risiko yang telah disebutkan di atas. Selain itu, perlu untuk melakukan pemeriksaan berkala mengenai kepadatan massa tulang.

Langkah-langkah untuk mencegahnya adalah: 1. Mengubah gaya hidup santai dengan aktivitas fisik. Olah raga sederhana, jalan kaki dengan sikap tegap, kedua lengan diayun, berkala 4-5 kali seminggu, cukup 30 menit, lebih baik bila membawa beban, agar kekuatan otot lebih cepat bertambah. Olah raga pun ada ketentuannya, jangan yang berlebihan takarannya. Sebab terlalu sering lelah karena olah raga memicu terjadinya osteoporosis, khususnya pada perempuan. Hal ini melalui terjadinya "tidak datang haid" untuk waktu yang lama, yang berdampak pada terjadinya osteoporosis.

2. Suplementasi kalsium. Hal ini perlu karena dalam pola makan biasa sehari-hari sangat sulit mengukur jumlah kalsium yang digunakan. Kalsium memang bisa didapat dari makanan seperti kacang hijau atau ikan, namun jumlah yang kita makan mungkin tidak mencukupi. Dianjurkan konsusmsi kalsium 500g/hari pada masa kanak-kanak, 1.000-1.300g/hari pada saat remaja/dewasa, dan 1.000 g saat usia manula. Pada usia lebih dari 50 tahun sekitar 1.200g/hari. Tentu saja fungsi ginjal harus baik, tidak terdapat batu ginjal misalnya. Penggunaan kalsium dalam tubuh dimetabolisme/diubah dengan melibatkan berbagai enzim dan hormon tertentu, di samping vitamin D3

3. Suplementasi vitamin D dibutuhkan sekitar 600 satuan internasional per hari. Lebih utama kalau vitamin diminum dari komponen susu, meminum susu yang sudah lengkap kandungan vitamin D dan kalsiumnya.

4. Protein. Dibutuhkan untuk mempertahankan dan membuka sel/jaringan tulang dan penunjang tulang.

5. Vitamin dan mineral, vitamin C, vitamin K, fosfor.

6. Sering berjemur di pagi hari.

7. Penggunaan obat-obatan untuk pencegahan baik kimiawi, hormon atau serupa aktivitas hormon yang banyak tersedia.

8. Berkala melakukan pemeriksaan kepadatan massa tulang, terutama sekali mereka yang memiliki faktor risiko seperti tersebut di atas. Pemeriksaan yang ideal melalui densitometer yang dapat menilai penurunan massa tulang di seluruh bagian tubuh, memiliki tingkat akurasi tinggi. Namun bila tidak memungkinkan dapat menggunakan densitometer khusus tulang tumit atau pemeriksaan ronsen atau pemeriksaan darah di laboratorium untuk menilai komponen kadar zat-zat pembentuk tulang dan kadar zat-zat yang menyerap tulang.

Sumber:
Prof. Dr. dr. Achmad Biben, Sp.O.G.,.K-FER/Guru Besar Tetap Fak. Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=82214
17 Januari 2010

Pil KB Stop Osteoporosis?

WHO telah menghubungkan kejadian osteoporosis dengan tingkat kepadatan tulang (Bone Mineral Density/BMD). Sebagai standarnya, dilakukan pengukuran pada tulang pinggul dengan alat Dual Energy X-ray Absorptiometry (DEXA). Nilai normalnya yaitu > 833 mg/cm2. Tulang dikatakan osteopenia bila tingkat kepadatannya antara 648 - 833 mg/cm2, dan dikatakan osteoporosis bila nilai kepadatan tulangnya kurang dari 648 mg/cm2. Kondisi osteoporosis yang parah akan menuju pada kerapuhan dan fraktur tulang (patah tulang).

Data yang dijabarkan oleh Perosi (2006), bahwa di Indonesia jumlah wanita yang mengalami menopause pada tahun 2000 mencapai 15,5 juta orang. Kondisi ini diperkirakan akan naik hingga 24 juta orang pada tahun 2015. Ingat bahwa pada masa menopause, sangat rawan untuk terjadi osteoporosis akibat penurunan estradiol (suatu estrogen) yang sangat tajam. Tentu saja hal ini perlu mendapat perhatian bagi para wanita. Pertanyaannya adalah, kenapa kejadian otseoporosis di Indonesia cenderung tinggi bahkan akan bertambah jumlahnya?. Kita akan melihat kenyataan bahwa masyarakat Indonesia pada umumnya asupan kalsiumnya sangat rendah, hanya berkisar 254-300 mg/hari. Padahal per hari konsumsi kalsium seharusnya sebanyak 1000 mg. Sungguh menyedihkan bukan?

Nasib tidak bisa ditolak, takdirpun tak bisa dielak, bahwa kodrat seorang wanita akan mengalami menopouse di masa tuanya (sekitar usia 50 tahun). Hal ini terjadi seiring dengan penurunan hormon estrogen (khususnya estradiol) yang sangat signifikan pada masa tersebut, gejala ini akan dirasakan mulai usia 45 tahun (masa perimenopause). Pada waktu itilah saat-saat yang rentan terhadap kejadian osteoporosis. Tetapi hal ini bisa diantisipasi dengan penggunaan pil KB kombinasi ethynil estradiol dengan progestogen (Microgynon®, Diane 35®, Yasmin®) selain sebagai kontrasepsi, ternyata memiliki manfaat lain, yaitu dapat meminimalisir osteoporosis di masa menopause. Tentu anda akan bertanya, bagaimana penjelasan ilmiahnya ?

Hal ini dikarenakan piil KB kombinasi bisa merangsang sel osteoblast, yaitu suatu sel yang berfungsi sebagai pembentuk kepadatan tulang. Sehingga pada wanita yang rutin mengkonsumsi pil KB, selain akan memperoleh manfaat sebagai kontrasepsi, ia juga akan memproleh manfaat lain berupa tulang sehat dan kuat. Bagaimana dengan metode KB yang lain, misalnya KB suntik 3 bulan ?

Penggunaan jangka panjang KB suntik 3 bulan memiliki konsekwensi terhadap kejadian osteoporosis, karena akan menurunkan fungsi sel osteoblast sebagai sel yang berperan penting dalam menjaga kepadatan tulang. Hal ini terjadi akibat penekanan produksi estrogen endogen oleh suntik KB 3 bulan yang terlampau lama secara terus menerus. Akhirnya, dapatkan manfaat ganda dari pil KB kombinasi, yaitu selain sebagai kontrasepsi, dapatkan juga manfaat lainnya berupa tulang sehat dan kuat. (RoviQ)

Sumber :
http://piogama.ugm.ac.id/index.php/2009/01/pil-kb-stop-osteoporosis/
25 Januari 2009

Apakah Anda Berisiko Osteoporosis?

Penyakit osteoporosis atau rapuh tulang semakin banyak dialami oleh pria dan wanita seiring bertambahnya usia. Akibatnya, kepadatan tulang semakin berkurang sekaligus meningkatkan risiko patah tulang.

Umumnya penderita osteoporosis sering terjadi di pergelangan, tulang belakang dan sendi pinggul, biasanya terjadi pada usia 60 tahun ke atas. Ditandai dengan gejala nyeri mulai dari ringan, sedang dan berat bahkan sampai tidak bisa jalan
Biasanya disebabkan kekurangan zat kalsium, proses penuaan, wanita yang menopause, faktor keturunan dan kekurangan gizi. Selain mencoba menghindari faktor penyebab, ada baiknya Anda mengetahui siapa saja yang berisiko terkena penyakit osteoporosis.
The National Osteoporosis Foundation memberikan beberapa daftar dari orang-orang yang berisiko terkena osteoporosis, antara lain :

1. Wanita dan lanjut usia (lansia) memiliki risiko yang lebih tinggi terkena osteoporosis.
2. Memiliki sejarah terjadinya osteoporosis dalam keluarga.
3. Memiliki bentuk tulang yang kecil dan tinggi atau bentuk tubuh yang kurus.
4. Kulit putih, Asia dan Amerika Latin memiliki risiko yang lebih besar.
5. Pernah mengalami retak atau patah tulang.
6. Memiliki hormon reproduksi yang rendah.
7. Jarang berolahraga.
8. Kurang mengonsumsi makanan mengandung kalsium dan vitamin D.
9. Mengonsumsi kafein, sodium dan protein dalam kadar yang tinggi.
10.Merokok atau sering mengonsumsi alkohol.
11.Mengalami kelainan pola makan atau memiliki penyakit rheumatoid arthritis.
12.Menggunakan beberapa obat tertentu seperti steroid. (healthday/rin)

Sumber :
http://new.republika.co.id/node/62175
14 Juli 2009

Suplemen Kalsium Cegah Osteoporosis

Osteoporosis adalah suatu penyakit dimana tulang-tulang menjadi rapuh dan mudah patah akibat hilangnya sebagian kalsium dalam tulang. Osteoporosis sering disebut silent disease, karena proses hilangnya kalsium dari tulang terjadi tanpa tanda-tanda atau gejala. Biasanya pasien baru mengetahui dirinya menderita osteoporosis jika sudah menderita patah tulang. Biasanya patah tulang pada osteoporosis terjadi di paha, tulang belakang, dan pergelangan tangan. Sebetulnya bagian tulang manapun bisa terpengaruh, namun yang paling membutuhkan perhatian adalah jika kerapuhan terjadi pada tulang paha dan tulang belakang. Patah tulang paha hampir selalu membutuhkan tindakan operasi, dan dapat mengganggu kemampuan berjalan dan bahkan bisa menyebabkan cacat permanen sampai kematian. Sedangkan patah
tulang belakang juga memiliki konsekuensi serius, seperti tubuh memendek, nyeri punggung, dan perubahan bentuk punggung.


Anda Termasuk Yang Mana?

Ada beberapa faktor yang menentukan apakah seseorang beresiko menderita osteoporosis, antara lain :

Usia. Semakin tua, semakin besar resiko seseorang terkena osteoporosis, karena tulang-tulang menjadi lebih lemah dan kepadatannya berkurang sejalan dengan usia.

Jenis Kelamin. Wanita memiliki resiko empat kali lebih tinggi terkena osteoporosis dibanding pria, walau bukan berarti pria terbebas dari resiko penyakit ini. Resiko wanita lebih besar karena wanita memiliki jaringan tulang yang lebih sedikit dan lebih cepat kehilangan kalsium dalam siklus hidupnya, antara lain karena menopause.

Riwayat Keluarga dan Riwayat Diri Sendiri. Kecenderungan seseorang memiliki tulang yang rapuh bisa didapatkan secara keturunan, yang tentunya meningkatkan resiko osteoporosis. Dan seseorang dengan riwayat patah tulang saat dewasa juga meningkatkan resiko patah tulang saat tua.

Ras. Wanita ras Kaukasia dan Asia ternyata memiliki resiko besar mengalami osteoporosis. Namun wanita ras Afrika-Amerika dan Hispanik juga memiliki resiko yang signifikan.

Struktur Tulang dan Bobot Badan. Wanita dengan tulang kecil dan bertubuh kurus memiliki resiko lebih besar.

Riwayat Menopause/Menstruasi. Menopause yang normal atau lebih awal (baik secara alamiah atau karena tindakan medis) meningkatkan resiko terkena osteoporosis. Juga, wanita yang berhenti menstruasi sebelum menopause, misalnya karena kondisi-kondisi seperti anoreksia atau bulimia, atau karena olah fisik yang berlebihan, juga bisa kehilangan jaringan tulang dan beresiko menderita osteoporosis.

Gaya Hidup. Merokok, terlalu banyak minum alkohol, kurang mengkonsumsi kalsium, dan kurang berolahraga juga meningkatkan resiko terkena osteoporosis.


Obat Juga Menambah Resiko

Resiko yang paling signifikan pada penderita osteoporosis ternyata justru akibat pengobatan jangka panjang dari penyakit-penyakit kronis seperti arthritis rheumatoid, gangguan endokrin (seperti hipotiroid), gangguan seizure dan penyakit saluran pencernaan. Salah satu golongan obat yang jelas-jelas memiliki efek pada tulang adalah glukokortikoid. Obat-obatan lain yang juga bisa menyebabkan kerapuhan tulang antara lain : hormon tiroid yang berlebihan, antikonvulsan, antacid yang mengandung aluminium, hormon pelepas gonadotropin (Gonadotropin releasing hormones, GnRH) yang digunakan pada pengobatan endometriosis, methotrexate untuk pengobatan kanker, siklosporin A, heparin, dan cholestyramine, yang digunakan untuk mengatur kadar kolesterol dalam darah.

Namun untuk kebanyakan orang, obat-obatan tersebut bersifat life-saving (menyelamatkan hidup) atau life-enhancing (meningkatkan kualitas hidup) yang mungkin penggunaannya memang diwajibkan. Oleh karena itu jika Anda memiliki resiko osteoporosis dan memerlukan obat-obatan di atas, Anda harus mendiskusikannya dengan dokter dan Anda tidak boleh menghentikan pengobatan atau mengubah dosisnya tanpa sepengetahuan dokter. Biasanya dengan atau tanpa gejala osteoporosis, dokter akan menambahkan suplemen kalsium saat meresepkan obat-obatan di atas.


Yuk Cegah Sedari Dini!

Untuk pertumbuhan dan aktivitas tubuh, kita membutuhkan kalsium. Kalsium adalah mineral yang penting bagi banyak fungsi tubuh, termasuk dalam pengaturan denyut jantung, impuls syaraf, menstimulasi sekresi hormon dan pembekuan darah, juga dibutuhkan untuk membentuk dan menjaga kesehatan tulang.

Kalsium bisa ditemukan di banyak makanan, dan karena tubuh kita tidak bisa memproduksi kalsium sendiri, maka asupan kalsium dari makanan dan sumber lainnya sangat penting. Bahkan setelah pertumbuhan tulang kita terhenti, kita pun tetap butuh asupan kalsium dalam jumlah cukup karena tubuh selalu kehilangan kalsium tiap hari lewat kulit-kulit yang mati, pertumbuhan kuku, rambut yang rontok dan juga keringat. Selain itu kalsium juga terbuang lewat urin dan feses. Kalsium yang hilang tersebut harus diganti setiap hari melalui makanan. Kalau makanan kita tidak mengandung cukup kalsium, maka tubuh akan mengambilnya dari 'cadangan' kalsium, yaitu tulang dan gigi. Dan jika hal ini terjadi dalam jangka panjang, maka Anda akan mengalami kekeroposan tulang dan gigi.

The National Academy of Sciences dan National Osteoporosis Foundation di Amerika Serikat merekomendasikan baik pria maupun wanita dewasa mengkonsumsi suplemen kalsium setidaknya 1000-1200 mg/hari. Wanita hamil dan menyusui malah membutuhkan lebih banyak kalsium, yaitu setidaknya 1500 mg/hari. Sebetulnya makanan adalah sumber kalsium terbaik, misalnya susu dan produk olahannya, sayur-sayuran berwarna hijau tua (terutama brokoli), ikan sardine, ikan teri, dan kacang-kacangan, namun kebanyakan dari kita tidak menganut pola makan yang benar, sehingga kita membutuhkan tambahan asupan kalsium dari suplemen.
Di alam, kalsium berada dalam bentuk senyawa. Ada beberapa senyawa kalsium yang digunakan dalam suplemen, antara lain kalsium karbonat, kalsium fosfat dan kalsium sitrat. Senyawa-senyawa ini mengandung jumlah ion kalsium yang berbeda, yang merupakan jumlah kalsium yang sebenarnya. Oleh karena itu penting untuk membaca label dan menentukan seberapa besar ion kalsium yang ada di tiap butirnya dan berapa banyak butir yang harus diminum.

Suplemen kalsium dapat dibeli tanpa resep dokter, dan tersedia dalam berbagai bentuk sediaan dan juga tingkat kekuatan. Kadang kala hal ini bisa membingungkan konsumen. Banyak orang yang bertanya, suplemen kalsium apa yang musti dikonsumsi. Suplemen 'terbaik' adalah yang paling cocok dengan kebutuhan penggunanya, baik itu berdasarkan tingkat toleransi, kemudahan dan kenyamanan cara mengkonsumsi, harga dan juga ketersediaan di pasaran.

Kalsium tidak dapat diserap oleh tubuh tanpa bantuan vitamin D. Itulah mengapa kebanyakan suplemen kalsium dikombinasikan dengan vitamin D. Namun apabila suplemen kalsium yang Anda miliki tidak mengandung vitamin D, maka Anda membutuhkan suplemen vitamin D tambahan. Selain itu, tulang juga membutuhkan bantuan vitamin A, C, magnesium, seng serta protein dalam jumlah yang cukup sebagai perekat tulang.


Rekomendasi Asupan Kalsium

Ini adalah data asupan kalsium yang direkomendasikan oleh The National Academy of Sciences untuk segala usia :

Usia/Jumlah (mg/hari)

Lahir – usia 6 bulan/210
6 bulan – 1 tahun/270
1 – 3 tahun/500
4 – 8 tahun/800
9 – 13 tahun/1300
14 – 18 tahun/1300
19 – 50 tahun/1000
51 tahun ke atas/1200

Disarikan dari : http://www.NOF.org

Sumber :
http://mediasehat.com/konten2no57
19 Oktober 2006