Minggu, 17 Januari 2010

Hati-hati Terhadap Osteoporosis

Penyakit Osteoporosis adalah penyakit yang gejalanya sering kali tidak terlihat. Penyakit itu biasanya baru terdeteksi setelah terjadi patah-patah kecil pada bagian dalam tulang atau rasa nyeri. Patah tulang karena Osteoporosis biasanya terjadi pada pergelangan tangan, tulang punggung, atau pangkal paha.

Osteoporosis adalah penyakit yang ditandai oleh berkurangnya massa tulang dan adanya kelainan mikroarsitektur jaringan tulang yang berakibat meningkatnya kerapuhan tulang serta resiko terjadinya patah tulang. Struktur tulang masih normal, tetapi massa tulang yang mengisi jaringan tulang menjadi rapuh dan mudah patah (fraktur). Penyakit ini juga disebut `pencuri tulang` yang bekerja secara diam-diam tanpa gejala sampai terjadinya komplikasi patah tulang yang disebabkan oleh hal-hal sepele.

Seringkali seseorang tidak mengetahui ia terserang osteoporosis, karena serangannya tidak diawali dengan tanda-tanda. Biasanya diketahui secara kebetulan pada saat pengambilan foto rontgen karena penyakit lain, kecelakaan ringan atau pada saat seseorang mengalami patah tulang. Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit ini, misalnya kekuarangan Kalsium, gerak, vitamin D, gangguan hormon tubuh, perokok berat, dan peminum alkohol berlebihan.

Osteoporosis layak untuk menjadi perhatian semua orang, terutama bagi kaum wanita, karena osteoporosis banyak menyerang wanita yang telah memasuki periode menopause. Hal ini disebabkan produksi hormon estrogennya berkurang dan mengakibatkan terjadinya penurunan kadar kalsium darah yang pada akhirnya mengakibatkan osteoporosis.


Wanita Lebih Beresiko Alami Keropos Tulang

Kaum wanita beresiko lebih besar mengalami rapuh tulang atau osteoporosis dari pada laki-laki, terutama wanita pasca menopouse. Pada usia 50 tahun, resiko patah tulang pada wanita tiga kali lebih besar dari pada pria. Estrogen berperan dalam proses mineralisasi tulang yang dipicu oleh kalsitriol dan menghambat resorbsi tulang serta pembentukan osteoklas melalui penghambatan produksi sitokin-sitokin dalam proses resorbsi tulang.

Terapi sulih hormon, merupakan pengobatan utama dalam penatalaksanaan osteoporosis paska menopause. Kombinasi esterogen dan progesteron digarapkan mempunyai efek terhadap proliverasi endometrium sehingga mencegah hiperplasi dan kanker endometrium. Selain per oral, esterogen dapat pula diberikan dalam bentuk koyok dan susuk. Selama pengobatan osteoporosis, baik hormonal maupun non-hormonal diperlukan pengawasan ketat seperti mamografi, sitologi, dan penilaian densitometri.

Insiden osteoporosis pada laki-laki lebih rendah dari pada wanita, karena laki-laki dapat mencapai massa tulang puncak yang lebih tinggi serta tingkat kehilangan massa tulang kortikol juga lebih rendah. Patogenesis osteopeni pada laki-laki, mungkin disebabkan berkurangnya pembentukan massa tulang dan bukan akibat meningkatnya resorbsi massa tulang. Sampai sekarang, belum ada pengobatan baku osteoporosis pada laki-laki. Testosteron dilaporkan meningkatkan densitas massa tulang vertebra sebesar lima persen, namun kadar estradiol serum ternyata juga meningkat 45 persen dan berkolerasi dengan peningkatan massa tulang vertebra.


Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Terjadinya Osteoporosis

1. Genetis : Diperkirakan hampir sekitar 80 % kepadatan tulang itu diwariskan secara genetik sehingga dengan kata lain osteoporosis itu dapat diturunkan.
2. Wanita diatas 40 tahun lebih banyak terkena osteoporosis dibandingkan dengan pria. Wanita yang memasuki masa menopause mengalami pengurangan hormon esterogen.
3. Kurang olahraga dapat menyebabkan kepadatan tulang berkurang. Olahraga atau aktivitas dapat meningkatkan kepadatan tulang.
4. Faktor lain seperti merokok, banyak mengkonsumsi minuman yang mengandung alkohol, kafein tinggi seperti teh, kopi serta cola.
5. Kekurangan gizi : Akibat penggunaan obat-obatan yang mengandung steroid atau penyakit kronis lainnya seperti penyakit hati, gagal ginjal kronis
Usia lanjut


Gejala osteoporosis yang sering terlihat dan mudah untuk dikenali adalah :

1. Terjadinya patah tulang secara tiba-tiba karena trauma yang ringan atau tanpa trauma.
2. Timbulnya rasa nyeri yang hebat sehingga penderita tidak dapat melakukan pergerakan.
3. Berkurangnya tinggi badan dan bongkok


Cara-cara pencegahan osteoporosis :

1. Melakukan aktivitas fisik yang teratur seperti olah raga
2. Diet dengan menambah Calsium dan vitamin D
3. Memperbaiki gaya hidup dan menghilangkan kebiasaan seperti merokok, minum alkohol
4. Penggunaan HRT (Hormon Replacement Therapy) atau terapi esterogen khususnya bagi wanita baru memasuki masa menopause.

Pengobatan osteoporosi bisa dilakukan dengan pemberian obat-obatan seperti : Kalsitonin dan bisphosphonates yang tentu saja harus sesuai dan tergantung dari anjuran dokter.

Kalsitonin : Penemuan hormon yang dapat menurunkan konsentrasi kalsium darah dimulai pada tahun 1960 oleh seorang profesor asal Kanada yang bernama Harold Copp. Ia menyebut zat itu sebagai 'calcitonin' karena dapat mengontrol konsentrasi kalsium (calcium tonus) didalam plasma. Zat ini banyak didapatkan terutama dari ikan salmon. Pada tahun 1969, Dr. Stephan Guttmann seorang peneliti dari Sandoz menyempurnakan penemuan calcitonin dengan keberhasilan memproduksi salmon calcitonin secara sintetis. Zat kalsitonin dapat mengurangi aktivitas dari sel osteoclast (sel yang bertugas menyerap tulang), memperlambat proses resorpsi dan meningkatkan peresapan kalsium oleh tulang. Dengan pemakaian kalsitonin, kepadatan dan kekuatan tulang dapat ditingkatkan sehingga tulang menjadi tidak lagi rapuh dan mengurangi rasa sakit.

Sumber :
Indah
http://www.indosiar.com/ragam/21383/hati-hati-terhadap-osteoporosis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar